Bung Kesit: “One Man Show” dan Ancaman Bom Waktu di PSSI

Akhmad Sef

“Kekuasaan yang tidak diawasi,” tulis Milan Kundera, novelis Prancis kelahiran Cekoslowakia, “selalu menemukan cara untuk membungkam suara yang mestinya menjadi penopangnya.”
Foto/Instagram/Erick Thohir

Foto/Instagram/Erick Thohir

Dan barangkali, dalam hiruk-pikuk sepak bola Indonesia yang selalu gemar pada sorak dan amarah, kutipan itu terasa lebih dekat dari yang kita kira. Ada kalanya organisasi tidak runtuh oleh teriakan, tetapi oleh jalan yang diam-diam menusuk. Dalam sepak bola, yang riuhnya tak pernah benar-benar padam, kita mungkin lupa bahwa bahaya justru sering bersembunyi di tempat-tempat yang tak terduga: ruang rapat, meja panjang, dan lembar persetujuan yang ditandatangani tanpa pertanyaan. Keputusan yang tidak pernah dipertanyakan itu lama-lama menjelma seperti retakan kecil di bawah pondasi; ia tak terlihat, namun sabar menunggu waktu

Ada bukti-bukti kecil yang kemudian membesar menjadi gema. Ketika PSSI memutuskan untuk mengakhiri era Shin Tae-yong dan pada 8 Januari 2025 mengangkat Patrick Kluivert sebagai pelatih baru, langkah yang dimaksudkan sebagai loncatan taktik dan image, pilihan itu tidak serta-merta meredam keresahan; ia justru menambah daftar keputusan yang dilalui tanpa diskusi terbuka.

Foto/Istimewa

Foto/Istimewa

Pencopotan dan pengangkatan pelatih, yang seharusnya menjadi momen evaluasi kolektif, terasa bagai pergeseran meja tanpa undangan untuk menimbang: siapa yang dirugikan oleh efisiensi semacam ini, dan siapa yang kehilangan hak untuk mempertanyakan?

Hasilnya berwujud: upaya besar untuk menempatkan kembali Indonesia ke panggung Piala Dunia kandas, kegagalan yang dipikul bersama dan yang memicu kekecewaan publik hingga berujung pada aksi massa di depan dan di kantor PSSI.

Ketika suporter Ultras Garuda dan kelompok lainnya, menggeruduk kantor federasi sebagai bentuk protes atas serangkaian keputusan dan hasil di lapangan, bukan hanya suara lantang yang terdengar; melainkan sebuah tanda bahwa kesepakatan diam-diam di ruang rapat telah sampai pada titik rapuh yang terlihat. Momen-momen itu bukan sekadar headline; mereka adalah cermin dari apa yang terjadi ketika mekanisme pertanggungjawaban dilompati demi alur keputusan yang cepat.

Foto/Joko Dolok

Foto/Joko Dolok

Kesit Budi Handoyo, pengamat sepak bola, yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DKI Jakarta, membaca persoalan itu. Ia melihat bagaimana sebuah federasi sebesar PSSI perlahan bergeser ke pola satu suara, satu figur, satu keputusan, dan dari sana lahir sebuah kegelisahan. Bukan karena pemimpin kuat selalu salah, tetapi karena organisasi yang hanya mendengar satu suara kehilangan nalurinya: bertanya, mengoreksi, dan menahan diri sebelum melangkah terlalu jauh.

Di titik inilah opini Kesit menemukan pijakannya. Bahwa dominasi, betapapun efisiennya, hanya meminjam stabilitas. Ia tidak membangun daya tahan. Dan PSSI, dengan sejarah retaknya yang selalu datang tiba-tiba, seharusnya paling paham tentang ini.

Maka pengantar ini hanya ingin mengatakan satu hal: jika Exco dipinggirkan, jika keputusan menjadi seragam, jika ruang rapat makin sunyi, maka PSSI sedang berjalan menuju sebuah “bom waktu” yang disinyalkan Kesit. Sebuah federasi yang mestinya berdiri di atas kolektif justru digerakkan melalui mekanisme tunggal.

Dan sejarah organisasi mengajarkan satu pelajaran sederhana: ketika dialog menghilang, krisis hanya menunggu giliran.

Dengan itu, kita memasuki opini lengkap Kesit Budi Handoyo, atau biasa disapa Bung Kesit, sebuah peringatan yang tidak mengangkat suara, tapi justru karena tenangnya itulah ia terdengar lebih jelas. Begini opini yang disampaikan Bung Kesit:

"Ada satu hal yang selalu membuat saya gelisah ketika berbicara tentang tata kelola sepak bola Indonesia: diamnya ruang rapat. Sebuah federasi sebesar PSSI seharusnya hidup dari debat, perbedaan perspektif, dan keputusan yang lahir melalui proses kolektif. Namun belakangan, yang terdengar justru satu suara yang terlalu dominan, suara Ketua Umum, Erick Thohir.

Saya harus mengatakan ini secara terang: gaya kepemimpinan yang terlalu terpusat pada satu orang, betapapun populernya ia di mata publik, tidak sehat bagi organisasi. PSSI bukan perusahaan pribadi. Ia adalah institusi yang dalam statuta sudah ditata agar berjalan melalui mekanisme kolektif kolegial; ada 15 anggota Komite Eksekutif (Exco) yang seharusnya menjadi ruang kontrol, ruang rem, dan ruang koreksi. Jika semua itu tidak berjalan, maka apa arti keberadaan mereka?

Masalahnya, tanda-tanda ketidakharmonisan itu makin mudah terbaca. Saya mendengar bahwa para anggota Exco jarang diajak berunding. Komunikasi formal tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan, beberapa Exco, ini lebih memprihatinkan, kadang diminta membubuhkan tanda tangan persetujuan pada suatu program, tanpa mengetahui sepenuhnya isi dokumen yang mereka sahkan. Pada titik ini, sebuah keputusan yang seharusnya dilahirkan bersama berubah menjadi legitimasi formal belaka terhadap kehendak satu orang.

Foto/PSSI

Foto/PSSI

Ini bukan sekadar persoalan prosedur. Ini masalah masa depan.

Karena ketika sebuah federasi dikelola dengan pola one man show, maka ada dua konsekuensi besar yang akan muncul. Pertama, Exco kehilangan fungsi kontrolnya. Mereka tak ubahnya menjadi penonton dalam pertandingan yang seharusnya mereka ikuti. Kedua, ketika kegagalan terjadi, dan dalam sepak bola, kegagalan selalu mungkin terjadi, semua beban akan jatuh ke pundak Ketua Umum. Yang lain akan mudah berkelit, “Itu bukan keputusan kami.” Padahal statuta menuntut keputusan kolektif, bukan dominasi tunggal.

Foto/Joko Dolok

Foto/Joko Dolok

Saya tidak anti terhadap pemimpin kuat. Indonesia butuh figur tegas dalam sepak bola. Namun pemimpin kuat yang tidak membuka ruang diskusi hanya akan menciptakan organisasi yang rapuh. Sebuah federasi yang berjalan dengan mekanisme tunggal akan terus tampak stabil, hingga suatu hari retaknya muncul dalam bentuk krisis.

Dan ketika itu terjadi, semua akan terlambat.

Maka izinkan saya mengulangi peringatan ini dengan jelas, bukan sebagai kritik personal, tetapi sebagai alarm organisasi:

“Kalau terlalu one man show, tidak mendengarkan suara-suara atau masukan-masukan dari Exco lainnya, saya pikir ini justru akan menjadi bom waktu sebenarnya bagi Pak Erick.”

Sepak bola tidak pernah dibangun oleh satu orang. Ia tumbuh dari kolaborasi. PSSI seharusnya kembali ke prinsip itu, sebelum ruang rapat yang sunyi berubah menjadi ruang krisis yang bising."

Pada akhirnya, organisasi, seperti tubuh, seperti bangsa, seperti nasib yang kadang kita kira lurus, selalu memberi tanda sebelum runtuh. Bukan lewat gebyar sorot kamera, bukan lewat pidato yang berapi-api, melainkan dari hal-hal kecil yang perlahan kehilangan maknanya: rapat yang tak lagi jadi forum, suara yang tak lagi didengar, tangan yang menandatangani sesuatu yang tak pernah benar-benar dibaca. Di situlah PSSI kini berdiri, pada persimpangan antara keteraturan yang dipaksakan dan kekacauan yang menunggu kemungkinan.

Barangkali, inilah ironi paling mengejutkan: rakyat di luar stadion berteriak, tetapi justru di dalam ruang rapat suara itu menghilang. Dan dalam sejarah panjang federasi ini, dari kegagalan, perombakan, hingga kemarahan publik yang mengetuk pagar kantor PSSI, kita selalu menemukan pola yang sama: bukan badai yang merusak rumah, tetapi paku-paku kecil yang dibiarkan longgar.

Foto/Joko Dolok

Foto/Joko Dolok

Kesit Budi Handoyo hanya menyalakan lampu kecil di sudut ruangan yang sengaja dibuat redup. Ia mengingatkan kita bahwa setiap organisasi yang menutup telinga pada perbedaan, sesungguhnya sedang menunggu hari ketika ia harus mendengar sesuatu yang jauh lebih keras: retaknya dirinya sendiri.

Dan barangkali, dalam sepak bola yang begitu mencintai 'hiruk-pikuknya' sendiri, kita justru perlu belajar mendengar kembali yang paling sederhana dari semuanya: diam. Sebab, di sanalah krisis biasanya lahir, dan di sanalah pula, jika kita mau mengakui, jalan keluarnya sering tersimpan.

Foto/Istimewa

Foto/Istimewa

Sebab seperti kata Albert Camus, “kebisuan yang panjang selalu mengandung makna: entah sebuah perlawanan, atau sebuah kekalahan.” Dalam sepak bola Indonesia, kita sedang belajar, dengan agak terlambat, mana yang tengah kita jalani.

Akhmad Sef, melaporkan. Tapi lebih dari itu, juga mendengarkan.

Instagram: @akhmadsefgeboy

Silakan kunjungi LUDUS Store untuk mendapatkan berbagai perlengkapan olahraga beladiri berkualitas dari sejumlah brand ternama.

Anda juga bisa mengunjungi media sosial dan market place LUDUS Store di Shopee (Ludus Store), Tokopedia (Ludus Store), TikTok (ludusstoreofficial), dan Instagram (@ludusstoreofficial).

APA KAMU SUKA DENGAN ARTIKEL INI ?

MULAI BAGIKAN

Response (0)

Login untuk berkomentar

Silakan login untuk berkomentar pada artikel ini.

No comments yet. Be the first to comment!