

LUDUS - Kadang sebuah keputusan federasi berputar seperti ingatan lama: kita meragukannya dulu, lalu perlahan menerima bahwa ia lahir dari perjalanan panjang seseorang yang mungkin selama ini tidak kita lihat sepenuhnya. Itulah yang terjadi ketika nama Nova Arianto diumumkan sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia U-20. Di luar, ada rumor, bertanya apa cukup pengalamannya, apa pantas ia memegang tongkat komando generasi yang akan datang.

Foto/IG/Nova Arianto
Erick Thohir, Ketua Umum PSSI memilih menjawabnya tanpa metafora, tanpa basa-basi. “Nova adalah pelatih yang tak perlu diperdebatkan lagi, pelatih terbaik yang Indonesia miliki saat ini yang kita berikan kesempatan pegang Timnas U-20, itu saja konteksnya,” katanya di Jakarta, Selasa (25/11).
Ada ketegasan yang jarang muncul sekaligus kelelahan menghadapi keraguan yang selalu lahir dari publik yang mencintai sepak bola, tapi sering tak sabar memberi waktu pada penjelasan.
BACA JUGA: Nova Arianto Resmi Pelatih Timnas Indonesia U-20, Nakhoda Timnas Senior Masih Misteri

Foto/PSSI
Erick melanjutkan bahwa penunjukan ini adalah bagian dari proses pembinaan dan regenerasi. Ia menyebut Nova sebagai pelatih lokal yang berbakat, seseorang yang telah membawa Timnas U-17 lolos ke Piala Dunia U-17 lewat babak kualifikasi, prestasi yang tak terjadi begitu saja, dan bahkan memberikan kemenangan pertama Indonesia dalam sejarah keikutsertaan di ajang tersebut.
“Prosesnya saya rasa berjalan dengan baik. Kalau boleh, kita beri kesempatan kepada pelatih lokal seperti Nova, dari U-17 ke U-20. Jangan kita berargumentasi kenapa ini,” tambahnya.
Di titik ini, sepak bola terdengar lebih sebagai keputusan moral ketimbang teknis: keberanian memberi kesempatan kepada darah sendiri. Erick menyebutnya standar baru PSSI. Investasi jangka panjang, katanya. Kepercayaan kepada pelatih lokal, kepada pemain lokal, kepada liga lokal; kesempatan bermain untuk pemain U-23, ruang bagi talenta dari Liga 2, bahkan U-21. “Ini adalah bagian dari pembinaan yang komprehensif, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” ujarnya.

Pelatih Timnas Indonesia U-17, Nova Arianto (paling kanan) dipromosikan ke jabatan arsitek Timnas U-20. Foto/PSSI
Dan tiba-tiba, penunjukan Nova terasa seperti lanjutan cerita yang sudah ditulis sejak lama.
Nova Arianto Sartono lahir di Semarang pada 4 November, tahun kelahiran yang kadang berbeda dalam catatan publik, 1978 atau 1979, meski catatan resmi populer menyebut 1979. Ia tumbuh dari keluarga yang akrab dengan sepak bola: ayahnya, Sartono Anwar, pernah menjadi pelatih yang namanya akrab di telinga generasi sebelumnya. Dari PSIS Semarang dan PSSI Baretti, ia menapaki masa muda seorang pemain yang tahu betul betapa sepak bola bukan hanya soal bakat, tapi juga ketekunan.
Sebagai bek tengah, ia mudah dikenali: tinggi, disiplin, dan tajam membaca arah bola. Ia mencetak gol dari bola mati sebagaimana seseorang yang mengerti ritme pertarungan udara. Puncak karier klubnya hadir bersama dua nama besar: Persebaya Surabaya, tempat ia meraih gelar Liga Indonesia Premier Division pada 2004, dan Persib Bandung, klub yang memberinya ruang antara 2007–2011 untuk menjadi tembok yang dihormati bobotoh.

Setelahnya, ada perjalanan singkat di Sriwijaya dan Pelita/PBR, sebelum ia memutuskan menggantung sepatu. Di level tim nasional, ia tak sekadar mengisi barisan belakang; AFF Championship 2008 mencatat satu golnya melawan Thailand, sebuah momen kecil yang menegaskan bahwa ia tak pernah menjadi bek yang pasif.
Namun perjalanan yang membawanya hari ini bukanlah yang terjadi saat ia bermain, melainkan setelah ia berhenti. Nova memilih menjadi pelatih. Ia memulainya sebagai asisten di Pelita Bandung Raya (2014–2015), kemudian mengambil kendali penuh sebagai pelatih kepala Madiun Putra pada 2016. Lampung Sakti menyusul pada 2017–2018, serta pengalaman menukangi Bhayangkara FC U-21 (2016–2017).

Foto/PSSI
Di level nasional, ia menjadi asisten tim muda dan senior Indonesia. Perlahan, langkah-langkah kecil ini membentuk jalur yang mungkin tampak samar pada awalnya, tapi kini terlihat jelas: ia dipercaya memimpin Timnas U-17, membuat mereka lolos ke Piala Dunia U-17, dan kemudian menorehkan kemenangan pertama Indonesia dalam sejarah turnamen tersebut. Itu bukan catatan kecil; itu semacam pernyataan tanggung jawab.

Foto/Dok.Nova Arianto
Pada akhir 2025, PSSI mempromosikannya ke Timnas U-20. Bukan karena ketiadaan pilihan, tetapi karena sebuah keyakinan bahwa ia tumbuh dari fondasi yang benar: pengalaman, disiplin pertahanan, naluri bola mati, dan keahlian membentuk mental pemain muda, hal-hal yang dulu membuatnya repsected sebagai bek, kini muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.
Mungkin publik berhak bertanya. Mungkin itu bagian dari ritus kita sebagai bangsa sepak bola: meragukan sebelum mengakui. Tapi ada saat-saat tertentu ketika kita perlu menahan diri, memberi ruang bagi seseorang yang menempuh jalannya dengan sabar. Penunjukan Nova Arianto adalah salah satu momen itu.
BACA JUGA: Bung Kesit: “One Man Show” dan Ancaman Bom Waktu di PSSI

Foto/Dok.Nova Arianto
Jika sepak bola Indonesia ingin maju, ia perlu lebih banyak keputusan yang tidak hanya benar di atas kertas, tetapi juga setia pada proses. Dan kadang, proses itu bermula dari seseorang yang sudah berjalan jauh sebelum lampu sorot diarahkan kepadanya. Nova Arianto hanyalah contoh paling mutakhir, seorang pemain yang belajar menjadi pelatih, seorang pelatih yang diberi kepercayaan, dan figur yang kini memegang masa depan Garuda Muda.

Foto/PSSI
Mungkin, pada akhirnya, kita hanya perlu melihat perjalanan itu tanpa terburu-buru menghakimi. Sebab sepak bola, seperti hidup, sering memperlihatkan buah yang paling matang pada mereka yang sabar merawat akarnya.

Silakan kunjungi LUDUS Store untuk mendapatkan berbagai perlengkapan olahraga beladiri berkualitas dari sejumlah brand ternama.
Anda juga bisa mengunjungi media sosial dan market place LUDUS Store di Shopee (Ludus Store), Tokopedia (Ludus Store), TikTok (ludusstoreofficial), dan Instagram (@ludusstoreofficial).

APA KAMU SUKA DENGAN ARTIKEL INI ?
MULAI BAGIKAN
Response (0)
Login untuk berkomentar
Silakan login untuk berkomentar pada artikel ini.
No comments yet. Be the first to comment!





