Voli Pantai Menuju SEA Games Thailand 2025: Target Emas, Tradisi 1997, dan Janji Kumandangkan Indonesia Raya

Akhmad Sef

Foto/PP PBVSI

LUDUS - Di sebuah ruangan sederhana di Solo, tempat yang mungkin tak pernah ditakdirkan menjadi panggung besar, tetapi justru sering menyimpan harapan paling jujur, Timnas Voli Pantai Indonesia berdiri berbaris sebelum menuju SEA Games Thailand 2025. Pagi itu, udara terasa seperti jeda: sebuah ruang tak cukup besar, sebelum langkah panjang dimulai. Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Indonesia (PP PBVSI), Imam Sudjarwo, berdiri di depan para atlet, dan kalimat-kalimatnya mengalir tanpa hiasan. Tapi, justru kesederhanaan itulah yang membuatnya terasa berat, seperti batu kecil yang diselipkan diam-diam ke dalam saku setiap pemain.

Foto/PP PBVSI

Foto/PP PBVSI

“Apa yang kalian kerjakan di pertandingan SEA Games Thailand merupakan kegiatan bela negara. Merah Putih berkibar dan Indonesia berkumandang. Itu harapan rakyat Indonesia di pundak kalian,” katanya. Ada nada yang mengingatkan kita bahwa olahraga, pada titik tertentu, berubah dari sekadar permainan menjadi semacam upacara kenegaraan yang tak tertulis: tempat sebuah bangsa bertaruh pada ketekunan otot dan keputusan sepersekian detik di atas pasir.

Imam seolah sedang mengingatkan kembali makna identitas, bahwa prestasi bukan hanya soal angka, bukan pula sekadar podium, melainkan semacam kartu nama bangsa. Di situ, olahraga kembali pada hakikatnya: ia menyatukan. Tidak hanya yang berdiri di dalam negeri, tetapi juga mereka yang berbaris, saling berhadapan, membawa bendera masing-masing.

Foto/Instagram/Sofyan Rachman Efendi

Foto/Instagram/Sofyan Rachman Efendi

Di acara itu, laporan persiapan disampaikan oleh Kepala Seksi Voli Pantai PP PBVSI, Slamet Mulyanto. Suaranya tenang, tetapi data yang dibawanya menunjukkan perjalanan panjang yang telah dimulai sejak Mei 2025. Tim putra dan putri menjalani try out di Vietnam dan Taipei; setelah itu, tim putra menambah jam terbang di Cina dan Filipina. Semua pengukuran fisik dan teknis menunjukkan peningkatan, seperti grafik yang pelan tapi pasti bergerak naik, bahwa kerja keras, meski tak selalu tampak, sebenarnya sedang membangun otot-otot kepercayaan diri.

Foto/PP PBVSI

Foto/PP PBVSI

Slamet lalu menarik garis panjang sejarah ke belakang. Keemasan voli pantai Indonesia, katanya, dimulai pada 1997 di Jakarta. Sejak itu, tim putra tidak pernah absen menjaga tradisi emas, terakhir pada SEA Games 2023 di Kamboja. Tim putri, setelah emas 1997, konsisten membawa pulang perak. Maka target tahun ini sebenarnya sederhana, tetapi justru di sanalah bebannya: putra mempertahankan emas; putri menjaga perak, meski tetap membuka pintu bagi sesuatu yang lebih berani: kemungkinan emas.

Foto/Istimewa

Foto/Istimewa

Formasi tim yang akan berangkat ke Thailand telah disusun rapi. Putra Indonesia 1 berisi Sofyan Rachman Efendi dan Bintang Akbar; Indonesia 2 diisi Danangsyah Yudistira Pribadi dan Yosi Ariel Firnanda.

Putri Indonesia 1 menurunkan Nur Atika Sari dan Desi Ratnasari; Indonesia 2 mengandalkan Josephine S. A. Kaize dan Bernadetta Shella Herdanti. Nama-nama itu, ketika dibaca, tampak seperti susunan administratif. Namun pada saat mereka menjejak pasir nanti, nama-nama itulah yang menjadi batas tipis antara tradisi yang bertahan atau babak baru yang terbuka.

Foto/PP PBVSI

Foto/PP PBVSI

Optimisme datang pula dari Asisten Manajer Timnas, Wiji “Tutek” Hastuti. Ia mengingatkan bahwa peta kekuatan SEA Games tidak banyak berubah. Thailand selalu menjadi lawan yang tak bisa dihindari, bahkan hampir setiap final adalah panggung Indonesia vs Thailand.

“Jika timnas terutama putra bisa mengatasi Thailand, peluang mempertahankan medali emas terbuka lebar,” ujarnya. Untuk tim putri, ia melihat kemungkinan yang sama: perak seharusnya dapat dipertahankan, tetapi emas tidak lagi sekadar angan-angan yang berkelebat.
Foto/PP PBVSI

Foto/PP PBVSI

Ada momen kecil, nyaris seperti adegan dalam film dokumenter, ketika Imam Sudjarwo menaikkan kerah jaket di bahu Sofyan, perwakilan putra dan Joshepine, perwakilan putri. Sebuah simbolis sederhana yang menyegel perpisahan: dari halaman Solo menuju gelanggang Thailand. Robert Kodong dari Dewan Kehormatan dan Wasekjen Gilang Iskandar berdiri menyaksikan, seperti saksi sunyi dalam ritual yang tak memerlukan kata-kata.

Setelah itu, para atlet mencium bendera Merah Putih, diiringi “Bagimu Negeri”. Di titik itu, selalu ada keheningan singkat, hening yang hanya muncul ketika seseorang menyadari bahwa apa yang akan ia lakukan bukan lagi miliknya sendiri.

Foto/PP PBVSI

Foto/PP PBVSI

Menutup acara, Imam kembali menegaskan harapan yang telah ia titipkan sejak awal, “Tanamkan Garuda di dada. Kalian harus tampil terbaik membela tanah air. Selamat berjuang, insyaallah kalian dapat mewujudkan harapan tersebut.”

Kalimat itu terdengar seperti pintu yang ditutup perlahan: menandai akhir dari kehidupan harian mereka, dan membuka pintu lain menuju pasir Thailand, tempat servis, block, dan smash akan berbicara lebih jujur daripada kata-kata.

Di atas pasir itu, kita mengirim bukan hanya tim, tetapi sebuah janji: bahwa Merah Putih yang berkibar nanti bukan sekadar bendera, melainkan gema kecil dari sebuah bangsa yang terus berharap untuk mengumandangkan Indonsia Raya!

Tim Bola Voli Pantai Indonesia di SEA Games Thailand 2025

Putra:

  1. Bintang Akbar
  2. Sofyan Rachman Efendi
  3. Danangsyah Yudistira Pribadi
  4. Yosi Ariel Firnanda

Pelatih:

  1. Andy Ardiansyah
  2. Candra Kurniyawan

Putri:

  1. Desi Ratnasari
  2. Nur Atika Sari
  3. Bernadetta Shella Herdanti
  4. Josephine S. A. Kaize

Pelatih:

  1. M. Fauzi Setiawan
  2. Surahman Sidik

Manajer Timnas: Wiji “Tutek” Hastuti.

Silakan kunjungi LUDUS Store untuk mendapatkan berbagai perlengkapan olahraga beladiri berkualitas dari sejumlah brand ternama.

Anda juga bisa mengunjungi media sosial dan market place LUDUS Store di Shopee (Ludus Store), Tokopedia (Ludus Store), TikTok (ludusstoreofficial), dan Instagram (@ludusstoreofficial).

APA KAMU SUKA DENGAN ARTIKEL INI ?

MULAI BAGIKAN

Response (0)

Login untuk berkomentar

Silakan login untuk berkomentar pada artikel ini.

No comments yet. Be the first to comment!