Fujairah Global Chess Championship 2025 Babak Keenam: IM Aditya Bagus Arfan dan IM Nayaka Budhidharma Raih Kemenangan Berkelas
Ludus01


LUDUS - Jumat (29/8) seakan membawa berkah. Di ruang pertandingan Fujairah Chess & Culture Club, Uni Emirat Arab, dua pecatur muda Indonesia melangkah dengan mantap. Tidak ada lagi debar berlebih seperti babak-babak sebelumnya. Para penggemar catur Tanah Air yang mengikuti siaran langsung di chess.com maupun lichess.org bisa bernapas lega: IM Aditya Bagus Arfan (2399) dan IM Nayaka Budhidharma (2389) sama-sama menang, dan menang dengan cara yang meyakinkan.

Pertandingan Aditya melawan pecatur Iran, FM Seyed Abolfazl Moosavifar (2283), bahkan bisa disebut berkelas. Membuka partai dengan Skotlandia variasi Klasik, Adit menunjukkan kontrol penuh sejak awal. Pada langkah ke-12, ketika bidak b2 miliknya diancam, ia tidak jatuh pada pilihan pasif. Dengan tenang ia menggeser rajanya ke h1, seakan berkata bahwa serangan lawan sudah ia perhitungkan. Seyed mencoba pertukaran bidak di d5, Adit menjawab dengan f4—konsisten dengan rencananya.
Kesalahan Seyed datang pada langkah ke-16, ketika ia tergoda memakan bidak b2. Bidak itu ternyata beracun. Setelah itu, bidak Adit melaju ke f5 lalu f6, menekan tanpa henti ke sayap-raja hitam. Puncak serangan terjadi di langkah ke-27: sebuah pengorbanan Benteng di g5 hanya untuk dua bidak. Namun justru itulah titik runtuh pertahanan Seyed. Gajah, Menteri, dan bidak Adit bekerja sama dengan dahsyat. Pada langkah ke-31, Seyed menyerah.

Foto/Kristianus Liem
Di meja lain, IM Nayaka Budhidharma (2389) juga menunjukkan kepiawaian strategi. Menghadapi pecatur Tiongkok, FM Jin Hongtao (2293), ia memilih pertahanan Sicilia variasi Najdorf. Permainan tampak mulai menguntungkan setelah Jin menukar Gajahnya dengan Kuda Nayaka di f6 pada langkah ke-18. Dalam posisi dinamis, memiliki pasangan Gajah berarti keunggulan.
Benar saja, di langkah ke-33 Nayaka sudah unggul satu bidak tanpa ancaman berarti. Permainan mengalir ke arah akhir Benteng, dan pada langkah ke-44, posisi semakin jelas: Nayaka unggul tiga bidak lawan dua, situasi yang secara teknis sudah menjadi kemenangan hitam. Dengan langkah-langkah presisi, Nayaka menutup partai di langkah ke-52. Jin pun mengulurkan tangan tanda menyerah.
Dua kemenangan ini membuat Adit dan Nayaka kini sama-sama mengumpulkan 3,5 poin (hasil +3 =1 -2). Nasib mempertemukan mereka lagi di meja bersebelahan pada babak ketujuh. Adit akan menantang pecatur putri Iran, WFM Sara Davari (2204) di meja 41. Sementara Nayaka bersiap menghadapi pecatur Uzbekistan, FM V Samandar Shermuhammado (2110) di meja 42.

Kristianus Liem, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PB Percasi bersama IM Aditya Bagus Arfan. Foto/Istimewa
“Ini kemenangan yang bukan sekadar menambah poin, tapi juga menunjukkan kelas permainan mereka. Adit berani mengorbankan materi untuk posisi, sementara Nayaka sabar dan presisi di akhir permainan. Dua gaya berbeda, tapi sama-sama membanggakan Indonesia,” ujar Kristianus Liem, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PB Percasi, ketika dimintai tanggapannya.
Bagi pecatur muda Indonesia, Jumat ini bukan sekadar hari keenam turnamen. Ia terasa seperti hari perayaan kecil, sebuah penegasan bahwa dari Fujairah, suara langkah bidak mereka sudah mulai terdengar ke seluruh penjuru Nusantara. (**)
APA KAMU SUKA DENGAN ARTIKEL INI ?
MULAI BAGIKAN
Response (0)
Login untuk berkomentar
Silakan login untuk berkomentar pada artikel ini.
No comments yet. Be the first to comment!