Fujairah Global Chess Championship 2025: Pecatur Nayaka Raih Kemenangan, Adit Tumbang Dramatis di Ronde Kelima

Ludus01

LUDUS - Ada semacam ironi di Fujairah Chess & Culture Club, Uni Emirat Arab, Kamis (28/8). Dua anak muda Indonesia yang sama-sama berusia 19 tahun, sama-sama menyandang gelar International Master, dan sama-sama duduk bersebelahan di papan turnamen 1st Fujairah Global Chess Championship, pulang ke penginapannya dengan cerita yang bertolak belakang. IM Nayaka Budhidharma (2389) tersenyum puas setelah menyudahi duel panjang 57 langkah melawan WIM Amina Kairbekova (2297), remaja putri berbakat dari Kazakhstan. Sementara itu, IM Aditya Bagus Arfan (2399) harus menelan pil pahit kekalahan dari IM Read Samadov (2522) asal Azerbaijan.

Foto/Kristianus Liem

Foto/Kristianus Liem

Nayaka, meraih kemenangan penting yang menjaga asa di papan tengah, sementara rekannya, Adit, harus tumbang secara dramatis setelah duel panjang penuh jebakan taktis. Kontras nasib dua pecatur ini menjadi cermin betapa kejam dan indahnya permainan catur: kemenangan satu langkah bisa jadi penentu, kekalahan satu langkah bisa jadi tragedi.

Partai Nayaka melawan Amina adalah drama penuh api di atas papan 64 kotak. Mereka memainkan Pertahanan Sisilia variasi Tertutup, dan sejak awal aroma duel taktis begitu terasa. Amina yang memegang buah hitam agresif menekan dari sayap-raja, tapi Nayaka menangkis dengan serangan balasan di sentrum.

Masing-masing berani mengorbankan perwira, sebuah tanda bahwa ini bukan sekadar partai uji coba, melainkan ajang adu nyali dan kalkulasi. Pada akhirnya, akurasi Nayaka membuat perbedaan. Kerja sama menteri dan bentengnya lebih cepat menembus baris belakang, membangun ancaman mat yang tak bisa lagi dibendung. Amina menyerah.

Foto/Kristianus Liem

Foto/Kristianus Liem

Lain halnya dengan Aditya Bagus Arfan. Pertemuannya dengan Read Samadov tak sekeras duel Nayaka, tapi justru itulah tantangannya. Mereka memainkan Gambit Menteri Diterima variasi Klasik, sebuah pembukaan yang membawa permainan masuk ke wilayah teori yang relatif tenang.

Sejak langkah ke-23, pertandingan bergulir ke endgame benteng-gajah dengan masing-masing tiga bidak. Bedanya, struktur bidak mereka tidak sama: Read menyisakan dua pulau bidak (a-b dan f-g-h), sementara Adit punya tiga pulau (a-b, e-f, dan h). Dalam teori catur, keunggulan kecil semacam itu jarang cukup untuk memaksa kemenangan. Namun, seorang Grandmaster dengan rating lebih tinggi, Read unggul 123 poin Elo, tahu betul bagaimana mengubah “kelebihan tipis” menjadi pisau tajam.

Read bersabar. Ia terus menekan, berharap lawannya membuat kesalahan. Harapan itu akhirnya datang pada langkah 41…Bb5+, sebuah pilihan yang justru membantu raja putih bergerak menuju sayap-raja, mendukung dua bidak bebas di lajur-f dan h. Padahal Adit punya tiga alternatif lain—41…a4, 41…Bb6, atau 41…Rg8, yang masih bisa menjaga keseimbangan. Satu celah kecil berubah jadi pintu besar bagi Samadov. Adit bertahan keras kepala hingga langkah ke-79, tapi akhirnya harus mengulurkan tangan tanda menyerah.

“Apa boleh buat, Read memang lebih matang dan ratingnya tidak bohong,” kata Kristianus Liem, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PB Percasi, memberi catatan.

Dengan hasil itu, kini Nayaka dan Adit kembali sama-sama mengumpulkan 2,5 poin setelah lima babak. Mereka akan kembali duduk bersebelahan pada babak keenam. Adit akan berhadapan dengan FM Seyed Abolfazl Moosavifar (2283) dari Iran di meja 54, sementara Nayaka akan melawan FM Jin Hongtao (2293) dari China di meja 55. Dua jalan beriringan, tapi belum tentu searah. Di Fujairah, papan catur menjadi panggung kecil di mana satu anak muda Indonesia bisa merayakan kemenangan akurat, sementara yang lain harus belajar dari kesalahan kecil yang berbuah besar.

Foto/Kristianus Liem

Foto/Kristianus Liem

“Ke depan, menurut saya, keduanya tetap prospektif. Nayaka sudah membuktikan ketenangan dan akurasinya, sementara Adit punya bakat besar dan tinggal butuh kematangan. Jika diasah konsisten, mereka bisa melampaui jejak para seniornya,” tegas Kristianus.

Dan dari dua kisah yang bertolak belakang itu, kita belajar satu hal: kemenangan butuh kejernihan, kekalahan menuntut ketabahan. Bagi Nayaka, kemenangan adalah bukti kecermatan yang terbayar; bagi Adit, kekalahan adalah guru yang keras namun jujur. Pada akhirnya, keduanya sama-sama sedang menulis bab awal perjalanan panjang catur Indonesia di panggung dunia. (**)

APA KAMU SUKA DENGAN ARTIKEL INI ?

MULAI BAGIKAN

Response (0)

Login untuk berkomentar

Silakan login untuk berkomentar pada artikel ini.

No comments yet. Be the first to comment!