Indonesia Akhiri Penantian 36 Tahun, Peringkat 19 di Kejuaraan Dunia Voli U-21 2025 Setelah Kemenangan Dramatis atas Thailand

Ludus01

Pertarungan empat set penuh ketegangan di Jiangmen bukan sekadar memastikan posisi 19 dunia, tetapi juga menandai kembalinya Indonesia ke panggung voli muda internasional setelah absen panjang sejak 1989.

Foto/en.volleyballworld.com/FIVB

Foto/en.volleyballworld.com/FIVB

LUDUS - Sorak-sorai itu meletup di Jiangmen, Tiongkok, ketika satu blok terakhir memastikan kemenangan Indonesia atas Thailand. Skornya 3-1 (25-23, 25-13, 20-25, 29-27), dengan set keempat yang membuat jantung seakan berhenti berdetak setiap kali bola melayang di udara. Bagi banyak orang, ini hanya angka, sekadar catatan peringkat ke-19 di Kejuaraan Dunia Voli U-21. Tetapi bagi Indonesia, inilah sejarah yang berulang setelah menunggu 36 tahun lamanya.

Foto/en.volleyballworld.com/FIVB

Foto/en.volleyballworld.com/FIVB

Indonesia pernah hadir di panggung dunia ini pada tahun 1989, lalu menghilang begitu lama. Saat itu mereka hanya bertahan sampai peringkat ke-15, sebelum kemudian absen dari 1991 hingga 2023. Jalannya berliku, karena syarat menuju kejuaraan dunia tidak sederhana: harus menembus papan atas kejuaraan Asia, di mana hanya empat tim terbaik yang berhak mendapat tiket. Baru pada 2024, di Bahrain, skuad muda Indonesia meraih posisi empat besar di Kejuaraan Asia U-20 dan kembali membuka jalan ke dunia.

Lalu tibalah momen itu, malam menegangkan melawan Thailand.

Foto/en.volleyballworld.com/FIVB

Foto/en.volleyballworld.com/FIVB

Set pertama dibuka dengan tempo tinggi. Kedua tim bergantian unggul, skor saling berkejaran. Di titik-titik kritis, Indonesia mampu menjaga ketenangan. Bola terakhir jatuh di lapangan lawan, menutup set dengan 25-23. Satu langkah awal yang menegaskan: mereka tidak datang ke Jiangmen untuk sekadar numpang lewat.

Di set kedua, Dawuda Alaihimassalam dan kawan-kawan seperti menemukan ritme yang sempurna. Servis keras dan serangan tajam memaksa Thailand berulang kali kehilangan akal. Skornya 25-13—telak, seperti sebuah pernyataan.

Foto/en.volleyballworld.com/FIVB

Foto/en.volleyballworld.com/FIVB

Namun, kemenangan mudah itu justru menjadi jebakan. “Di set kedua kita menang jauh sehingga anak-anak sedikit lengah,” aku asisten pelatih timnas, Nur Widayanto. Set ketiga berubah menjadi milik Thailand. Servis lawan lebih berani, serangan lebih menusuk, sementara kesalahan demi kesalahan dari servis dan penerimaan bola pertama membuat mental pemain goyah. Skor 20-25 menegaskan bahwa kemenangan tidak bisa ditebus dengan rasa percaya diri yang berlebihan.

Foto/en.volleyballworld.com/FIVB

Foto/en.volleyballworld.com/FIVB

Lalu tibalah set keempat, set paling dramatis. Indonesia tertinggal lima poin, seolah jalan menuju kemenangan kembali menjauh. Di pinggir lapangan, Nur Widayanto mencoba mengembalikan fokus.

“Kami instruksikan agar pemain tetap fokus, kurangi kesalahan, dan sabar meraih poin satu demi satu. Itu kuncinya sampai akhirnya menang,” ujarnya. Perlahan, poin demi poin direbut. Pertarungan panjang terjadi hingga skor jus. Dan ketika akhirnya angka menunjukkan 29-27, Indonesia menutup pertandingan dengan kemenangan yang lebih dari sekadar skor: sebuah pesan bahwa kesabaran adalah senjata terakhir.

Dengan kemenangan itu, Indonesia memastikan diri finis di posisi ke-19 dunia. Bagi tim lain, mungkin itu angka yang biasa. Tapi bagi Indonesia, ini adalah tanda kebangkitan. Dari sekian lama absen sejak 1989, hingga akhirnya kembali lewat jalur keras Asia, kemenangan ini seperti menyalakan lampu di ujung lorong panjang sejarah. Tanda bahwa voli putra muda Indonesia mampu menembus kembali panggung dunia setelah menunggu tiga dekade lebih.

Foto/en.volleyballworld.com/FIVB

Foto/en.volleyballworld.com/FIVB

Ada kebanggaan yang tak bisa dihitung dengan ranking semata. Setiap angka di papan skor itu membawa narasi lebih besar: bahwa generasi baru voli Indonesia berani menantang dunia, dan bahwa perjuangan 36 tahun akhirnya menemukan jawabannya.

APA KAMU SUKA DENGAN ARTIKEL INI ?

MULAI BAGIKAN

Response (0)

Login untuk berkomentar

Silakan login untuk berkomentar pada artikel ini.

No comments yet. Be the first to comment!