Kejuaraan Dunia 2025: Putri KW Akhiri Paceklik Satu Dekade, Debby Susanto Sebut Semifinal Ini Menyalakan Harapan

Ludus01

LUDUS - Paris, Jumat malam, 29 Agustus 2025. Sorak-sorai membahana di dalam Adidas Arena. Seorang gadis berusia 22 tahun asal Tangerang berdiri dengan napas terengah, raket masih tergenggam erat. Di layar besar terpampang skor akhir: 21-14, 13-21, 21-16. Nama itu muncul dengan terang: Putri Kusuma Wardani – Indonesia.

Foto/PBSI

Foto/PBSI

Bukan sekadar kemenangan. Bagi Putri, inilah titik balik perjalanan panjang yang berliku, sekaligus hadiah bagi tunggal putri Indonesia yang selama satu dekade sepi dari medali dunia.

Sejak Lindaweni Fanetri terakhir kali membawa pulang perunggu Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta, tunggal putri Indonesia seperti terlelap panjang. Medali emas bahkan sudah menjadi cerita nostalgia sejak Susy Susanti memenanginya pada 1993, lebih dari tiga dekade lalu.

Kini, Putri KW berdiri di semifinal Kejuaraan Dunia BWF 2025. Paceklik itu akhirnya pecah. Ia mengunci medali perunggu.

Foto/Istimewa

Foto/Istimewa

Debby Susanto, mantan pebulutangkis nasional yang kini menjadi komentator olahraga, melihat perjalanan Putri bukanlah kebetulan semalam.

“Bermula dari tidak ikut serta di Uber Cup, itu justru jadi pukulan sekaligus pemicu. Putri ingin membuktikan bahwa dia layak diperhitungkan. Dari situ terlihat, dia jadi lebih positif, lebih ngotot, dan tidak mudah menyerah,” kata Debby.

Titik balik itu makin jelas saat Putri dipercaya menggantikan Gregoria Mariska sebagai tunggal pertama di Sudirman Cup. “Itu panggung pembuktian, dan benar saja Putri tampil memukau di luar ekspektasi. Dari situ rasa percaya dirinya tumbuh, kualitas permainannya meningkat,” lanjut Debby.

Foto/PBSI

Foto/PBSI

Maka, ketika ia menantang Pusarla V. Sindhu, juara dunia 2019, peraih dua medali Olimpiade, dan ikon bulu tangkis India, di Paris, Putri datang dengan modal mental baru. Pertarungan tiga gim itu menghadirkan drama klasik: Putri agresif di gim pertama hingga menutup 21-14, lalu kehilangan arah di gim kedua yang dimenangi Sindhu 13-21. Tapi ketika laga menuntut keberanian terakhir, Putri menemukan dirinya kembali. Di gim penentu, ia mengendalikan ritme, menjauhkan bola dari jangkauan tubuh Sindhu, hingga menutup kemenangan 21-16.

Yang membuat duel ini semakin istimewa, Sindhu kini berada di bawah asuhan Irwansyah, pelatih asal Indonesia yang dulu ikut membesarkan bakat Putri-putri negeri ini. Seakan ada garis takdir yang mempertemukan mereka di panggung Paris.

“Alhamdulillah hari ini bisa bermain dengan nyaman walaupun game kedua sempat tertinggal jauh,” ujar Putri usai laga. Ia bicara jujur tentang kebingungan melawan arah angin, tentang bola depan yang kerap “nongol”, hingga keputusan sederhana namun penting di gim ketiga: “Pikiran saya harus jaga poin, main bola-bola panjang, dan jauhin dari badan dia.”

Bagi Debby Susanto, kemenangan ini seolah kelanjutan dari sinyal yang sudah muncul sejak awal turnamen. “Kemarin saat mengalahkan Tomoka Miyazaki ada asa bahwa Putri paling tidak bisa bawa pulang medali. Apalagi ketika Sindhu mengalahkan Wang Zhiyi, peluang semakin terbuka lebar bagi Putri untuk melangkah ke semifinal. Dengan medali perunggu sudah di tangan, Putri telah memutus paceklik sejak 2015,” katanya.

Namun Debby tidak berhenti di sana. Ia menatap semifinal melawan Akane Yamaguchi, lawan tangguh dari Jepang. “Besok melawan Akane, saya berharap Putri mampu tampil enjoy dan menikmati tiap pukulannya. Semoga saja warna perunggu bisa di-upgrade ke warna lainnya,” ujarnya penuh harap.

Foto/PBSI

Foto/PBSI

Di balik semua analisis teknis, ada satu kalimat Putri yang paling membekas:
“Arti semifinal Kejuaraan Dunia 2025 buat saya adalah rasa terima kasih kepada diri sendiri. Karena sempat merasa di bawah banget. Bisa sampai di sini itu tidak gampang. Banyak hal yang saya lakukan dalam diam untuk mengembalikan semuanya lagi.”

Foto/PBSI

Foto/PBSI

Kalimat itu terdengar seperti catatan seorang atlet muda yang pernah jatuh, lalu diam-diam merakit dirinya kembali. Di balik kemenangan, ada pergulatan dengan rasa ragu.

Apapun hasil semifinal nanti, satu hal sudah pasti: nama Putri Kusuma Wardani telah menyalakan api baru. Ia bukan hanya memutus paceklik medali, tapi juga menghadirkan harapan bahwa tunggal putri Indonesia masih bisa bicara lantang di dunia. Dari Paris, suara itu kini menggema pulang ke tanah air: seorang Putri telah kembali ke panggung sejarah.

APA KAMU SUKA DENGAN ARTIKEL INI ?

MULAI BAGIKAN

Response (0)

Login untuk berkomentar

Silakan login untuk berkomentar pada artikel ini.

No comments yet. Be the first to comment!