Langkah Catur, Langkah Sejarah: Chess Fun Day SMAK 1 BPK Penabur

Ludus01

LUDUS - Sabtu pagi, 23 Agustus 2025, matahari baru saja menembus kaca-kaca tinggi lantai 6 Aula SMAK 1 BPK Penabur, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Namun udara di dalam gedung sekolah legendaris ini lebih hangat daripada terik luar. Bukan semata karena sorak-sorai para siswa dan orang tua, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam: perayaan perjalanan panjang 75 tahun SMAK 1 BPK Penabur, dirayakan dengan cara yang tak biasa: sebuah pesta catur.

Chess Fun Day & Meet & Greet, begitu nama acara itu. Dari judulnya saja, orang sudah tahu: ini bukan sekadar pertandingan, ini sebuah perjumpaan. Perjumpaan pecinta catur dengan para master, perjumpaan sejarah dengan masa depan, perjumpaan antara ilmu dan permainan.

Delapan nama hadir, masing-masing dengan cerita dan gelar yang menyertainya. Ada pasangan suami-istri bergelar Grand Master, Sean Winshand Cuhendi dan Dewi AA Citra, yang seolah membuktikan bahwa cinta pun bisa menemukan papan caturnya sendiri. Ada IM Farid Firmansyah, IM Satria Duta Cahaya, Women International Master (WIM) Shafira Devi Herfesa, serta tiga darah muda: Alexander Philip, Zach, dan Hillary Rocca, para juara nasional dan regional yang sedang tumbuh menjadi tumpuan masa depan.

Mereka bukan hanya datang untuk bermain, tetapi juga untuk berbagi, tawa, pengalaman, bahkan kelemahan manusiawi di balik gelar besar.

Kemeriahan dimulai dengan kuis seputar catur dan BPK Penabur. Gelak tawa, tepuk tangan, dan hadiah kecil membuat suasana cair. Namun panggung sesungguhnya hadir ketika papan catur mulai disentuh.

IM Satria Duta Cahaya duduk membelakangi papan. Blindfold chess. Ia tak melihat kotak-kotak hitam putih di hadapannya, hanya mendengar langkah-langkah lawan. Dua pengurus BPK Penabur, Wijaya dan Arif, mencoba menguji. Tapi seperti seorang pianis yang tak perlu melihat tuts, Satria menggerakkan bidak-bidak di dalam kepalanya. Satu demi satu langkah, hingga skakmat. Penonton berdecak, antara kagum dan tak percaya.

Lalu giliran GM Sean Winshand Cuhendi. Tantangannya absurd: skakmat hanya dengan pion. Lawannya, seorang alumni bernama Benedik, diberi keistimewaan waktu, lima menit melawan satu. Tapi sejarah membuktikan: pion-pion kecil pun bisa jadi tentara besar. Sean mengaturnya dengan tenang, hingga bidak-bidak mungil itu menutup hari lawan. Ia lalu berujar lirih, “Syukur atas perjalanan panjang BPK Penabur. Semoga sekolah ini terus menyertai generasi bangsa dengan cahaya.”

Di ujung acara, giliran sebuah pertunjukan massal. Simultan. Tapi bukan simultan biasa. Kali ini, kedelapan master berjalan bergantian, satu demi satu, dari meja ke meja, menghadapi puluhan lawan yang terdiri dari siswa, alumni, hingga para orang tua. Gerakan berantai ini tak ubahnya tarian kolektif, sebuah koreografi langkah-langkah catur yang menyatukan banyak kepala dan hati.

Beberapa siswa tampak tegang, orang tua ikut bersemangat, sementara para master berjalan ringan, seperti aktor di panggung yang sudah mengenal naskahnya.

Kepala Sekolah SMAK 1 BPK Penabur, Lie Fong Fong, berdiri di tepi arena, menyaksikan semua itu dengan mata berbinar.

“Ini bukti konkret kami tidak hanya fokus pada akademik,” ujarnya. “Kami juga memfasilitasi potensi non-akademik siswa, termasuk di bidang catur, seni, dan olahraga.”

Dari sisi lain, Adri Lazuardi, Ketua Umum Yayasan BPK Penabur, menyebut SMAK 1 sebagai sekolah legendaris yang telah menorehkan sejarah panjang. “Lewat kegiatan di luar akademik ini, saya berharap SMAK 1 semakin berjaya dan mengukir prestasi,” katanya.

Prestasi yang ia maksud tak melulu berupa medali atau piala. Kadang, prestasi adalah keberanian sebuah sekolah untuk melangkah keluar dari pakem lama, untuk menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya rumus di papan tulis, melainkan juga strategi di papan catur, harmoni di panggung seni, dan sportivitas di lapangan olahraga. Seperti langkah bidak kecil yang perlahan berubah menjadi ratu, begitulah sekolah menyiapkan anak-anaknya, pelan, sabar, tapi dengan arah yang jelas.

Dan ada Eka Putra Wirya, alumni SMAK 1 sekaligus Pembina PB Percasi. Dengan nada penuh rasa terima kasih ia berkata, “BPK Penabur sudah berkali-kali bikin turnamen besar, bahkan sampai mendapat tiga rekor MURI. Bagi kami, Penabur adalah mitra strategis dalam memajukan catur Indonesia. Pokoknya, BPK Penabur the best.”

Di balik seruan “the best” yang terdengar sederhana itu, tersembunyi makna lebih dalam. Eka seakan ingin mengatakan bahwa kualitas sebuah sekolah bukan hanya terukur dari raport siswanya, melainkan dari jejak yang ia tinggalkan dalam ekosistem bangsa. Dengan menjadi mitra strategis catur nasional, BPK Penabur telah melampaui dirinya sebagai institusi pendidikan: ia hadir sebagai rumah yang membuka pintu, bahkan bagi olahraga yang tak selalu populer, namun penuh makna.

Chess Fun Day hanyalah satu dari serangkaian perayaan HUT ke-75 BPK Penabur bertema Membangun Generasi Unggul Mengukir Prestasi Tanpa Henti. Sebelumnya sudah digelar turnamen sepak bola, padel, bulu tangkis, dan layanan kesehatan untuk para guru. Esok hari, 24 Agustus, ada Fun Walk di Gelora Bung Karno, lalu turnamen golf 28 Agustus, dan puncak pesta pada 30 Agustus di Basket Hall Senayan.

Namun di antara semua itu, Chess Fun Day meninggalkan kesan yang berbeda. Catur, dengan diamnya yang penuh strategi, dengan kotak hitam-putihnya yang sederhana, tiba-tiba menjadi metafora perjalanan sekolah ini: langkah demi langkah, bidak demi bidak, strategi demi strategi, hingga genap 75 tahun.

Seperti pion kecil yang akhirnya mencapai kotak terakhir dan berubah menjadi ratu, SMAK 1 BPK Penabur telah membuktikan bahwa kesabaran, visi, dan konsistensi bisa mengubah yang sederhana menjadi yang luar biasa.

Dan di aula sekolah itu, pada Sabtu pagi yang hangat, langkah-langkah catur bukan sekadar permainan. Ia adalah perayaan sejarah. Ia adalah doa yang diam-diam bergerak maju.

APA KAMU SUKA DENGAN ARTIKEL INI ?

MULAI BAGIKAN

Response (0)

Login untuk berkomentar

Silakan login untuk berkomentar pada artikel ini.

No comments yet. Be the first to comment!