

LUDUS - Indonesia tengah diliputi kabar duka. Seorang driver ojek online, Affan Kurniawan, tewas tertabrak kendaraan Brimob saat demo. Suasana muram itu merambat hingga ke stadion, ke tengah sorak-sorai yang biasanya jadi ruang pelarian. Dan di sinilah sosok Rizky Ridho muncul, bek tangguh Timnas Indonesia dan kapten Persija Jakarta, yang diam-diam menyematkan pita hitam di lengannya pada pertandingan Liga 1. Ia satu-satunya pemain yang melakukan itu. Sebuah isyarat kesedihan, tapi lantang, bahwa sepak bola tak pernah sepenuhnya terlepas dari denyut rakyat.

Foto/Instagram/Rizky Ridho Ramadhani
Ridho bukan sekadar bek yang disiplin di lapangan. Lahir di Surabaya, 21 November 2001, ia tumbuh dari akademi Persebaya sebelum meretas jalan ke Persija dan Timnas. Nilai pasarnya meroket, golnya hadir meski ia seorang bek, dan ban kapten telah melekat di lengannya. Namun di balik semua itu, ada hal yang lebih dalam: empati. Dari gestur di lapangan hingga pilihan-pilihan hidup di luar pertandingan, empati seakan menjadi benang merah yang menjahit siapa sebenarnya Rizky Ridho.
Pada Jumat, 29 Agustus 2025, di Banten International Stadium, Serang, Persija Jakarta menghadapi Dewa United dalam lanjutan pekan ke-4 BRI Super League 2025/2026. Dari jauh, pertandingan itu tampak seperti laga biasa: hiruk pikuk tribun, bendera yang berkibar, teriakan yang saling sahut-menyahut. Tetapi ada detail kecil yang mengusik mata siapa pun yang jeli.

Foto/Instagram/Rizky Ridho Ramadhani
Di lengan kapten Persija, Rizky Ridho, tersemat sebuah pita hitam. Hanya ia seorang yang mengenakannya. Bukan aksesori mode, bukan pula kebetulan, melainkan simbol duka, untuk Affan Kurniawan, seorang driver ojek online yang kehilangan nyawanya di tengah demonstrasi.
Keputusan itu bukan tanpa perdebatan. Menurut info yang berkembang, seluruh skuad Persija sejatinya ingin ikut memakai pita hitam. Namun regulasi ketat Liga Indonesia Baru (LIB) mengharuskan izin resmi, dan izin itu tak kunjung turun. Para pemain terikat aturan, tapi Ridho memilih berbeda. Ia ngotot. Ia melangkah ke lapangan dengan ban kapten yang kali ini berubah makna: bukan sekadar tanda kepemimpinan, tetapi juga tanda solidaritas.
Pelatih Persija, Mauricio Souza, bahkan mengakui bahwa Ridho melakukan itu karena “sangat sedih dengan apa yang terjadi di Indonesia.” Ia membawa kesedihan itu masuk ke lapangan, tanpa banyak kata, tanpa selebrasi.

Foto/Instagram/Persija
Gestur kecil itu kini terekam dalam ingatan: laga Persija vs Dewa United bukan hanya soal skor akhir, tetapi juga soal satu pemain yang berani menanggung simbol, demi suara duka yang tak sempat terwakilkan.
Bola bergulir, sorak penonton bergema, namun di lengan Ridho ada tanda bahwa sepak bola bukan hanya tentang menang atau kalah. Ia adalah tentang mengingat bahwa di luar garis putih lapangan, ada kehidupan yang rapuh, ada nyawa yang mesti dihargai.

Foto/Instagram/Rizky Ridho Ramadhani
Albert Camus pernah berkata: “Apa yang saya ketahui paling pasti tentang moralitas dan kewajiban manusia, saya berutang pada sepak bola.” Mungkin di situlah, kita bisa melihat Ridho. Ia tidak sedang bermain hanya untuk skor, tetapi juga sedang mengajarkan pelajaran moral, tentang solidaritas, tentang empati, tentang keberanian untuk mengingat mereka yang sering dilupakan.
Dan dari gestur itu, kita bisa menyusuri lima fakta tentang dirinya. Fakta yang bukan sekadar biografi, melainkan cermin tentang bagaimana seorang anak muda dari Surabaya tumbuh bukan hanya menjadi pemain bola, tetapi juga manusia yang belajar merasakan luka orang lain. Inilah lima fakta dari kacamata LUDUS.ID tentang siapa sosok Rizky Ridho Ramadhani.
1. Pita Hitam dan Suara Duka Rakyat

Di laga BRI Liga 1, Rizky Ridho menjadi satu-satunya pemain Persija yang mengenakan pita hitam sebagai tanda duka atas meninggalnya driver ojol Affan Kurniawan yang tertabrak saat demo. Sebuah gestur yang sederhana, tapi penuh makna: ia memilih tidak diam. Dalam kesunyian stadion yang hiruk pikuk, pita hitam itu bicara lantang tentang kepedulian.
“Kemanusiaan tidak bisa dibagi-bagi. Ia utuh, dan selalu lebih besar dari sekat apa pun.” — Desmond Tutu
Ini mengingatkan kita bahwa di balik permainan 90 menit, seorang atlet bisa menyalakan empati yang jauh lebih panjang usianya daripada sekadar skor pertandingan.
2. Empati yang Menyembunyikan Nama

Foto/Dok.BAZNAS RI/Humas/Lulut
Dalam sebuah aksi sosial di perkampungan pemulung, bersama Baznas, Ridho datang membawa paket makanan dan bermain bola dengan anak-anak. Namun ia menyembunyikan identitasnya sebagai pemain timnas. Bukan untuk merendahkan dirinya, tapi untuk memuliakan anak-anak itu: agar mereka bisa bermain lepas, tanpa kagum berlebihan, tanpa merasa kecil.
“Orang yang benar-benar besar adalah yang tidak merasa perlu untuk disebut besar.” — Ralph Waldo Emerson
Empati sejati adalah ketika kita hadir bukan untuk dilihat, melainkan untuk membuat orang lain merasa berarti. Ridho memperlihatkan bahwa kadang, menyembunyikan nama adalah cara terbaik untuk memperlihatkan jiwa.
3. Dari Kurir Ayam ke Kapten Timnas

Foto/Instagram/Rizky Ridho Ramadhani
Pandemi COVID-19 mematikan kompetisi. Banyak pemain patah arah. Ridho tidak malu turun tangan membantu keluarga dengan mengantar pesanan ayam. Dari pekerjaan itulah ia belajar nilai kerja keras, nilai setiap rupiah yang diperoleh dari keringat. Kini ketika ia berdiri sebagai kapten tim, ada semacam empati yang lahir dari sana—ia tahu apa arti perjuangan kecil, ia mengerti bahwa kemewahan stadion selalu punya akar dari kerja keras di jalanan.
“Kerja keras dan kesabaran adalah jalan emas bagi mereka yang percaya.” — Mahatma Gandhi
Ridho bukan hanya kapten di lapangan, ia kapten bagi dirinya sendiri: memimpin hidup dengan kerendahan hati, tanpa pernah lupa darimana ia berangkat.
4. Hobi, Iklan, dan Empati Kreatif

Foto/Instagram/Rizky Ridho Ramadhani
Ridho punya hobi klasik: mengoleksi dan memodifikasi Vespa. Ia juga jadi wajah sejumlah brand, dari otomotif hingga minuman. Tetapi ia tidak pernah larut dalam gemerlap. Semua itu baginya hanyalah alat untuk menyampaikan inspirasi pada anak muda, bahwa kehidupan atlet juga bisa diwarnai kreativitas, kerja tangan, dan ketulusan membagi cerita.
“Kreativitas itu lahir dari cinta. Tanpa cinta pada hidup dan pada sesama, segala bentuk karya hanya akan kering.” — Albert Einstein
Dari Vespa hingga iklan, Ridho menunjukkan bahwa empati bisa hadir dalam bentuk paling sederhana: berbagi passion, menggerakkan orang lain untuk berani bermimpi, tanpa kehilangan kerendahan hati.
5. Mentalitas Baja, Jiwa yang Tak Egois

Foto/PSSI
Dalam laga melawan Bahrain, tubuh Rizky Ridho sempat dilanda kram hebat hingga ia harus ditandu keluar lapangan. Namun, bukannya menyerah, ia justru memaksa masuk kembali. Bahkan, dengan sisa tenaga, ia meminta dimainkan sebagai striker. Bagi sebagian orang mungkin itu sekadar ambisi pribadi, tetapi di baliknya tersimpan pesan yang lebih besar: kesediaan mengorbankan tubuh demi tim. Ada empati yang mendahulukan kebersamaan di atas kepentingan diri.
Thom Haye kemudian menyingkap sisi lain dari momen itu dengan nada ringan. Ia membagikan cerita lucu ketika Ridho berusaha melawan rasa sakit saat menghadapi Bahrain. Candaan itu justru menegaskan satu hal: di balik gestur sederhana, ada karakter besar yang lahir dari keuletan dan pengorbanan.

Foto/PSSI
Kisah itu terjadi pada penghujung laga, Selasa (25/3/2025) di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Indonesia tengah unggul tipis 1-0 dan mendapat tekanan berat. Ridho yang kesakitan terpaksa keluar untuk perawatan, sementara pergantian pemain sudah habis. Demi timnya tak kalah jumlah, bek Persija Jakarta itu kembali masuk meski terpincang-pincang, berdiri tegak dengan sisa tenaga, menjaga benteng terakhir dengan segala keterbatasan tubuhnya.
Bagi sebagian orang itu ambisi pribadi. Namun di baliknya ada pesan: ia rela mengorbankan tubuhnya untuk tim. Ada empati yang tak egois, mendahulukan kebersamaan di atas kepentingan diri.
“Orang kuat menciptakan kekuatan dari orang lain, bukan dari dirinya sendiri.” — Lao Tzu
Ridho mengajarkan kita bahwa empati tidak selalu hadir lewat kelembutan. Kadang, ia hadir lewat keberanian untuk menanggung sakit agar orang lain tetap bisa berdiri tegak.

Foto/Instagram/Rizky Ridho Ramadhani
Pada saat yang sama, dunia maya turut menjadi ruang ekspresi duka. Di akun Instagram pribadinya, Rizky Ridho mengunggah potret dirinya dalam balutan nuansa hitam putih, sebuah gambar tanpa warna, seolah ingin menyuarakan bahwa kegembiraan telah ditanggalkan, dan hanya kesedihan yang tersisa. Simbol visual itu menggaung, tak butuh caption panjang, hanya sebuah tagar singkat: #staysafe, karena publik tahu: diam juga bisa berteriak.
Lalu, apa artinya semua ini? Bahwa sepak bola, meski permainan penuh sorak, juga adalah bahasa kesedihan. Pita hitam di lengannya, unggahan monokrom di layar ponsel kita, lima fakta yang menyingkap sisi-sisi dirinya, semuanya bermuara pada satu kenyataan: Rizky Ridho sedang menulis narasi berbeda. Bukan tentang gol, bukan tentang trofi, melainkan tentang solidaritas.
Pada akhirnya, pita hitam di lengan Rizky Ridho bukanlah sekadar kain. Ia adalah bahasa yang tak terucapkan, simbol duka yang dibawa ke lapangan, tetapi juga tanda kehidupan yang mesti berjalan. Di balik tubuhnya yang tegak menahan serangan lawan, ia membawa sejenak rapuh bangsa yang kehilangan anak mudanya.

Kita belajar, dari 5 fakta tentangnya, bahwa kepahlawanan tidak selalu hadir dalam gol, trofi, atau selebrasi. Kadang, kepahlawanan hadir dalam kesediaan seorang manusia untuk mengingat, untuk menunduk, dan untuk membiarkan air mata menjadi bagian dari pertandingan.
Albert Camus, filsuf yang juga pernah menjadi penjaga gawang, pernah berkata: “Segala yang saya ketahui tentang moral dan kewajiban manusia, saya pelajari dari sepak bola.” Maka apa yang dilakukan Rizky Ridho pada malam itu adalah pelajaran tentang moral: bahwa sepak bola tak bisa dipisahkan dari kemanusiaan, dari kehilangan, dari empati.

Foto/Dok.BAZNAS RI/Humas/Lulut
Dan mungkin, kelak, ketika kita kembali membuka ingatan tentang masa ini, kita tak hanya akan mengingat skor pertandingan melawan Vietnam. Kita akan mengingat seorang kapten yang berdiri dengan pita hitam, membawa luka bangsa, dan menyulapnya menjadi kekuatan untuk melawan rasa putus asa.
Itulah cara sepak bola, dan kehidupan, mengajarkan kita bahwa meski duka tak pernah hilang, ia bisa ditransformasikan menjadi keberanian untuk terus berlari.
APA KAMU SUKA DENGAN ARTIKEL INI ?
MULAI BAGIKAN
Response (0)
Login untuk berkomentar
Silakan login untuk berkomentar pada artikel ini.
No comments yet. Be the first to comment!