Dari Tiga, Tinggal Satu: Putri KW Penyelamat Indonesia, Cetak Sejarah Baru di Kejuaraan Dunia 2025
Ludus01

Tiga wakil Indonesia di perempat final, dua terhenti, satu bertahan, Putri Kusuma Wardani mengembalikan harapan Indonesia dengan permainan penuh determinasi dan mencetak prestasi bersejarah, menjadi simbol kebangkitan tunggal putri Indonesia di panggung dunia.

LUDUS - Dalam satu dekade terakhir, penantian panjang itu seperti tak berujung. Indonesia selalu pulang dengan cerita pahit dari sektor tunggal putri di Kejuaraan Dunia. Namun, Jumat (29/8) di Adidas Arena, Paris, Putri Kusuma Wardani menghapus dahaga itu. Ia menjadi tunggal putri pertama Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir yang berhasil menembus semifinal Kejuaraan Dunia.

Foto/PBSI
Putri tampil penuh determinasi kala menyingkirkan mantan juara dunia asal India, Pusarla V. Sindhu. Dengan skor 21-14, 13-21, 21-16, pebulu tangkis 22 tahun itu mengukir sejarah pribadi sekaligus nasional: membawa kembali warna Merah Putih di babak empat besar tunggal putri yang selama ini terasa asing, sekaligus mengunci medali perunggu.
Namun, langkah Putri tak datang tanpa luka. Di sektor tunggal putra, Jonatan Christie harus tersingkir setelah bertarung sengit melawan Kunlavut Vitidsarn, unggulan ketiga asal Thailand. Jojo sempat membalas di gim kedua, tetapi akhirnya kalah 14-21, 21-18, 8-21.

Foto/PBSI
Sementara itu, pasangan ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi juga gagal melangkah lebih jauh. Mereka ditundukkan pasangan Jepang, Rin Iwanaga/Kie Nakanishi, dengan skor 15-21, 16-21.

Foto/PBSI
Indonesia menurunkan tiga wakil di perempat final. Dua tumbang, satu bertahan. Tetapi satu yang bertahan itu lebih dari sekadar kemenangan. Ia adalah simbol bahwa penantian panjang tunggal putri Indonesia akhirnya menemukan titik terang.
Apa yang dilakukan Putri KW bukan hanya kemenangan di atas lapangan, melainkan kemenangan melawan sejarah yang selama ini enggan berpihak. Kini, Indonesia kembali punya alasan untuk berharap di sektor yang lama kehilangan cahaya.

Foto/PBSI
Sepuluh tahun menunggu, satu kemenangan mengubah segalanya. Dari tiga wakil, hanya Putri KW yang bertahan, dan ia membawa harapan Indonesia kembali bersinar di tunggal putri dunia. Dalam setiap smash dan pengembalian, Putri menulis sejarah baru, mengingatkan kita bahwa satu langkah berani bisa cukup untuk mengubah arah sejarah. Hari ini, Indonesia kembali punya alasan untuk bermimpi.
Inilah pernyataan mereka usai berlaga, seperti yang diceritakan kepada tim humas PBSI: kata-kata yang lahir dari hati, penuh kejujuran dan semangat, seolah ingin membagikan momen kemenangan dan kekalahan sekaligus menjadi jejak yang tak terlupakan bagi bangsa dan olahraga Indonesia.

-- Putri Kusuma Wardani --
"Alhamdulillah hari ini bisa bermain dengan nyaman walaupun game kedua sempat tertinggal jauh. Ada perbedaan dari pertemuan di Sudirman Cup dengan yang sekarang, Sindhu tadi lebih menyerang. Kita sama-sama ambil dari depan untuk menyerang.
Game kedua saya agak sedikit bingung sama situasi anginnya karena baru main di lapangan ini juga, jadi pas angkat atau ngelewatin kayak gampang out atau tanggung. Bola depannya juga banyak nongol tadi, jadi kalo disodok, kayak susah buat balikkin ya.
Game ketiga pas unggul 11 dan pindah tempat, pikiran saya harus jaga poin, main bola-bola panjang dan jauhin dari badan dia.
Arti semifinal Kejuaraan Dunia 2025 buat saya adalah rasa terima kasih kepada diri sendiri karena sempat merasa di bawah banget, kayak bisa sampai disini itu tidak gampang, banyak hal yang saya lakukan dalam diam untuk mengembalikan semuanya lagi.
Pertemuan terakhir dengan Akane, saya kalah di babak Quarter Final Indonesia Open. Saya besok harus siap dari fisik dan teknisnya juga mendukung untuk menyerang. Jadi besok saya harus siap lebih capek lagi dari hari ini."

Foto/PBSI
-- Jonatan Christie --
"Puji Tuhan dulu karena saya dapat melewati permainan hari ini tanpa kekurangan apapun hari ini walaupun hasilnya tidak sesuai dengan harapan dan harus terhenti lagi di babak delapan besar.
Harus diakui hari ini Kunlavut bermain sangat bagus dan cepat. Di game pertama, pada saat menang angin, Kunlavut justru bermain sangat cepat dan agresif, yang mana itu bukan kebiasaan Kunlavut, biasanya dia cenderung ada rally-rally dulu baru menyerang.
Game kedua, justru saya tidak menyangka bahwa Kunlavut akan bermain tidak konsisten dan banyak melakukan kesalahan sendiri.
Kesalahan saya adalah di game ketiga awal, dimana dia sudah langsung in terlebih dahulu ke dalam permainan cepat dan itu yang kembali menyulitkan saya dan membuat permainan saya tidak berkembang. Harusnya saya memegang ritme permainan dulu di awal game ketiga tadi. Pertandingan hari ini tentunya akan menjadi evaluasi saya untuk mencoba lagi di pertandingan yang akan datang."

Foto/PBSI
-- Febriana Dwipuji Kusuma --
"Kita tadi di game pertama berusaha bermain menyerang karena posisi menang angin dan mereka defence nya siap banget dan pas kita merubah pola pun mereka juga sudah siap, jadi buangan-buangan kita suka tanggung walaupun kita juga bisa dapat poin.
Banyak suka dukanya partner-an bareng Tiwi, naik turun kita berusaha untuk bangkit, semuanya sudah kita lalui bersama. Semoga kita bisa sama-sama sukses dengan partner masing-masing. Saya yakin individu Tiwi juga bagus, pasti ke depannya bisa lebih bagus lagi. Intinya yang terbaik untuk ganda putri Indonesia."
-- Amallia Cahaya Pratiwi --
"Hari ini serangan dan pukulan satu dua tiga nya juga bagus. Game pertama kita juga buru-buru banget melakukan serangan dan mereka juga sudah siap banget dengan defence nya. Intinya mereka bermain agresif dan sangat rapi hari ini dan itu yang membuat kami kesulitan untuk mencari celah.
Ke depannya saya akan berjuang dengan partner masing-masing, bukan hal yang mudah bagi kita karena kita sudah berpasangan cukup lama dari 2019, sekitar 6 tahun dan tidak pernah dipecah. Pastinya kita akan sama-sama berjuang untuk prestasi terbaik bagi ganda putri Indonesia."
APA KAMU SUKA DENGAN ARTIKEL INI ?
MULAI BAGIKAN
Response (0)
Login untuk berkomentar
Silakan login untuk berkomentar pada artikel ini.
No comments yet. Be the first to comment!